12 Jam Bersama Widiastadi Nugroho: Semuanya Berawal dari Ruangan 6×6

PAGI belum lagi menyibakkan sinarnya yang menyengat. Kokok ayam pun kalah bersaing dengan alarm yang berbunyi secara terus menerus dari ponsel berwarna coklat di sisi tempat tidur.

Sejurus kemudian, bunyi cipratan air di tempat wudhu beriringan dengan lantunan adzhan subuh dari Masjid Amanatul Ummah Perumahan Duta Mas Batam menandakan pria bertubuh subur itu bersiap-siap melakukan shalat.

Selepasnya, dengan wajah sedikit mengantuk. Pria yang diketahui bernama lengkap Widiastadi Nugroho itu pun memulai aktivitasnya sehari-hari. Lembar demi lembar kertas berisikan laporan ditelisik dan diperhatikan dengan seksama.

Menggunakan stabilo berwarna merah, politisi ini memberikan tanda pada sebuah kertas bertuliskan program kerja Komisi III di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah(DPRD) Provinsi Kepri.

BACA: Widiastadi Panggul Jenazah Orangtua SAHABAT KITA

Widiastadi Nugroho

Sejam kemudian, Pria kelahiran Kebumen, 19 Oktober ini bergegas mandi dan bersiap-siap berangkat ke Tanjungpinang guna melaksanakan tugasnya sebagai Ketua Komisi III.

Di dalam mobil, Iik panggilan akrabnya kembali membuka lembaran kertas yang dijilid berukuran besar menuju Pelabuhan Punggur, Batam.

Setibanya di Pelabuhan Punggur, Iik pun masih sempat menyapa dan bercengkrama dengan orang-orang yang dikenalnya sambil menuju Kapal MV Oceanna bersama penumpang lainnya dengan tujuan Tanjungpinang.

“Apa kabar mas, tambah gemuk sekarang,” Sapa seorang porter di Pelabuhan Punggur sambil membuka percakapan dan bersalaman.

Melihat hal tersebut, sejumlah supir taksi, warga hingga petugas kapal yang saat itu ada di Pelabuhan Punggur pun ‘merengsek’ mendekatinya guna menyapa dan bersalaman dengan Adik bungsu Soerya Respationo ini.

BACA: Akhir Pekan, Widiastadi Nugroho Blusukan ke Permukiman Warga

Widiastadi Nugroho

Meski tak lama, Iik terlihat bercengkrama sambil diselingi guyonan ringan. Hal yang sama juga terlihat saat dirinya duduk di kursi penumpang dalam kapal.

Sesekali, ia pun kembali membuka ‘bundelan’ kertas sambil beberapa kali mengerenyitkan dahi tanda berpikir keras. Seruputan kopi dalam Cup pun menjadi pelampiasan.

“Kemajuan Provinsi Kepri ini khususnya infrastrukturnya tidak akan berhasil jika dilakukan oleh jajaran di Pemerintahan Daerah saja, akan tetapi perlu dukungan dari semua kalangan masyarakat. Saya akan terus melakukan inovasi-inovasi demi kemajuan Kepri. Kalau bisa saya tidak akan segan-segan untuk mengambil sisi baik dari wilayah lain untuk ditransformasikan di wilayah Kepri,” jelas pria ini saat ditemani IDNNews.id.

Kepri itu, tambahnya, Provinsi yang sangat unik. Mengingat, letaknya yang sangat strategis dan berdekatan dengan negara tetangga bisa menjadi keunggulan jika dikelola dan dijalankan dengan baik dan maksimal. Bahkan bisa membuka ‘gerbang’ perekonomian.

Hal ini bisa dilihat dari pesatnya pembangunan di bidang infrastruktur seperti pembangunan jalan, jembatan, pelabuhan, dermaga, air bersih dan listrik.

BACA: Pro Wong Cilik, Widiastadi Nugroho: Saya ikhlas Dikecam dan Dimaki

Widiastadi Nugroho

Selain menimbulkan efek perekonomian, dengan adanya pembangunan infrastruktur tersebut sedikit banyak juga berimbas pada pemerataan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat di Kepri.

Pria yang telah sukses memperjuangkan pendapatan dari sektor labuh jangkar yang sebelumnya dikelola oleh Pemerintah Pusat dan akhirnya diambil Kepri ini pun mengaku dengan pembangunan fisik ini, dipastikan akan meningkatkan pendapatan daerah sekaligus pemerataan kesejahteraan bagi masyarakat Kepri.

“Hasil pembangunan sarana dan prasarana fisik ini, telah menunjukkan hasil yang signifikan. Dan ini semua dapat dilihat dari indikator pengembangan infrastruktur Kepri yang menunjukkan peningkatan presentase jalan provinsi berkondisi baik dari 593,54 Km (2016) menjadi 603,3 Km (2017). Atau meningkat dari 66,21% pada tahun 2016 menjadi 67,31% pada tahun 2017,” jelasnya.

Politisi PDI Perjuangan ini pun menyebutkan, Pembangunan infrastruktur yang masif dan terencana diharapkan akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah nantinya.

“Itulah sebabnya kita mendorong pemerintah agar lebih memperhatikan pembangunan infrastruktur di daerah. Selain mendorong tumbuhnya ekonomi bagi warga kepri dan ekonomi bangsa secara umum,” jelasnya.

BACA: Pencemaran Limbah Minyak, Buat Resah DPRD Kepri

Doa Jadi ‘Senjata Andalan’

Widiastadi Nugroho

Tak akan ada kesuksesan tanpa diiringi dengan doa, kiranya menjadi sebuah ‘senjata andalan’ yang dipegang oleh Widiastadi Nugroho dalam kesehariannya.

Dari banyaknya kesibukkan sebagai anggota dewan, Iik selalu melaksanakan kewajiban lima waktu dan memanjatkan doa di akhirnya.

“Usaha tanpa doa nol, dan berdoa tanpa berusaha juga nol hasilnya mas. Jadi dua-duanya harus seimbang,” terangnya.

Lepas aktivitas tersebut, Iik pun kembali melihat berkas laporan yang diserahkan stafnya sambil berdiskusi di ruangan berukuran 6×6 meter persegi tersebut.

Di ruangan inilah, sejumlah proyek pembangunan infrastruktur di Kepri jadi perhatiannya. Nuasa merah, lambang banteng dan sejumlah foto bersama Soerya Respationo terpampang.

“Di ruangan inilah selama hampir beberapa tahun saya mencurahkan perhatian untuk kemajuan infrastruktur di Provinsi Kepri,” terang pria yang menyukai buku berjudul “The 7 Habits of Highly Effective People” karya Dr. Stephen Covey yang hingga kini menginspirasi dirinya.

BACA: Komisi III DPRD Kepri Sidak Proyek Pembangunan Jalan Senilai Rp 32 Miliar di Batam

Widiastadi Nugroho

Buku terlarisnya itu pun mampu memberikan dorongan inspirasi baginya, dimana beberapa pelajaran hidup yang menyentuh hampir setiap aspek kehidupan dari mulai sebuah pernikahan hingga mengasuh anak dan juga perihal kepemimpinan ada di dalamnya.

“7 Habits of Highly Effective People” telah terjual 20 ribuan copy. Bahkan buku ini dinobatkan sebagai salah satu buku manajemen paling berpengaruh oleh kebanyakan organisasi termasuk Forbes and Time Magazines.

BACA: Semenisasi Jalan Selesai, Warga: Terima Kasih Mas Iik dan Mas Putra

Widiastadi Nugroho

Stephen Covey percaya bahwa kesuksesan terjadi ketika seseorang menyelaraskan nilai mereka dengan prinsip abadi dan universal yang ada di dunia. Dia mengajarkan bahwa nilai adalah apa yang mengatur perilaku orang, tapi prinsip adalah apa yang akhirnya menentukan konsekuensinya.

Maka tak heran, apa yang dilakukannya ditujukan untuk kebaikkan masyarakat Kepri dengan menempatkan dirinya sebagai masyarakat dalam setiap proyek pembangunan di Kepri.

“Dengan menempatkan diri sebagai masyararkat, kita akan tahu apa saja kebutuhan dan kekurangn yang dirasakan oleh masyarakat,” terangnya. (Iman Suryanto)

DomaiNesia

Berita Terkait