NEWSVideo: Aksi Petugas DJBC Kepri Kejar Penyelundup Seperti Dalam Film Action

206

IDNNews.id, Karimun – Kantor Wilayah Direktorat Jendral Bea dan Cukai (DJBC) Khusus Kepri menegah satu unit kapal High Speed Craft (HSC) bermesin 4X300 PK, yang mengangkut 13 kotak Polystyrene bermuatan Baby Lobster senilai Rp 12.086.949.750 Milliar di perairan Pulau Patah Karimun pada Senin (24/12) lalu.

Kepala Wilayah DJBC Khusus Kepri, Agus Yulianto dalam Press Conference di Aula H.K.Irooth Kantor Direktorat Jendral Bea dan Cukai (DJBC) Khusus Kepri Selasa (25/12) mengatakan penegahan Baby Lobster tersebut atau yang lebih dikenal dengan istilah “Sapu Basah” bermula dari laporan masyarakat tentang adanya penyelundupan Baby Lobster ke luar daerah pabean Indonesia.

“Atas dasar laporan tersebut dilakukan patroli laut bersama Kanwil DJBC dan KPU BC Tipe B Batam dan melihat HSC berkecepatan tinggi,” kata Agus.

BACA: Kanwil DJBC Khusus Kepri Tegah Baby Lobster Senilai Rp 12 Milliar

Aksi kejar-kejaran pun katanya terjadi antara petugas dan pelaku penyelundup, sehingga pihaknya melakukan tembakan peringatan terhadap pelaku agar menghentikan laju speednya.

“Namun mereka tidak menyerah, kita tetap melakukan pengejaran, kita juga mengepung mereka (pelaku) dengan armada tambahan dari PU Jello” katanya.

BACA: Hingga September 2018, Bea dan Cukai Batam Tegah 13.370.956 batang Rokok Selundupuan

Hingga akhirnya HSC yang dimaksud terdesak dan melesatkan speednya ke dalam hutan bakau hingga kandas ke darat.

“Para pelaku berhasil melarikan diri, setelah melakukan pemeriksaan pendahuluan HSC tersebut bermuatan 13 kotak Polystyrene,” katanya.

Selanjutnya isi dari ke-13 kotak tersebut berupa Baby Lobster jenis pasir dengan total 87.000 ekor yang setiap ekornya dihargai senilai USD 8 atau senilai RP.10.169.256.000 dengan kurs saat ini Rp.14.611/Dolar.

Dan Baby Lobster jenis Mutiara dengan total 8.750 ekor yang setiap ekornya dihargai senilai USD 15 atau senilai Rp.1.917.693.750 dengan kurs saat ini Rp. Rp.14.611/Dolar.

“Benih Baby Lobster termasuk dalam jenis hasil laut yang dilarang penangkapan berdasarkan Peraturan Mentri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia nomor 56/PERMEN-KP/2016,” katanya.

BACA: Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Sumbang Penerimaan Kepabeanan dan Cukai di Batam

Penyelundupan ini melanggar hukum pasak 102A huruf (a) UU Nomer 17 tahun 2007 tentang kepabeanan dengan ancaman hukuman kurungan paling singkat satu tahun dan paling lama 10 tahun atau paling sedikit denda Rp.50 juta dan paling banyak Rp.5 Milliar.

“Barang bukti tersebut diserahkan ke Kepala Kementrian Kelautan dan Perikanan Tanjungpinang untuk segera dilepasliarkan ke habitat asalnya,” katanya.(Nursali)

Leave a Reply