27.1 C
Indonesia
July 22, 2019
Home » Blog » Waduk Tembesi, Diantara Harapan dan Ancaman Kebutuhan Air Baku Batam
ATB BP Batam Ekonomi Featured Headline kepri

Waduk Tembesi, Diantara Harapan dan Ancaman Kebutuhan Air Baku Batam

hosting indonesia

IDNNews.id, Batam – Pertumbuhan jumlah penduduk di Kota Batam setiap tahunnya selalu meningkat. Dimana pada tahun 2016, jumlah penduduk diketahui sebanyak 1.236.399 jiwa. Kemudian naik menjadi 1.263.941 jiwa pada tahun 2017. Sementara pada tahun 2018, jumlah penduduk Batam tercatat sebanyak 1.329.773 jiwa. (Sumber: BPS Kota Batam).

Pertambahan jumlah penduduk ini, sedikit banyak menimbulkan kebutuhan akan air bersih yang selalu meningkat juga. Dan hal ini pun membuat PT Adhya Tirta Batam (ATB) yang merupakan pemenang konsesi air bersih selama 25 tahun di Batam ini ‘berzibaku’ dalam memenuhi kebutuhan tersebut.

Meski Batam diketahui memiliki lima waduk tadah hujan dan enam Instalasi Pengolahan Air (IPA) yakni Sei Harapan, Sei Ladi, Nongsa, Mukakuning, Tanjungpiayu dan Duriangkang, ternyata dipandang belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Kota Berbentuk Kalajengking dari udara ini.

BACA: Usung Silahturahmi Berbagi Cerita, ATB Ajak Awak Media ‘Selami’ Problematika Pengolahan Air di Batam

Waduk Tembesi

Untuk itu diperlukan sumber air baku baru nantinya. Salah satunya Waduk Tembesi.

Waduk yang memiliki luas keseluruhan mencapai 1.300 hektar ini, digadang-gadangkan akan menjadi solusi yang terbaik dalam pemenuhan kebutuhan air warga Batam. Akan tetapi, kondisinya saat ini terbilang masih sangat jauh dalam kata ‘layak’ dan terbilang memprihatinkan.

Mengingat, berdasarkan foto-foto udara (drone) dalam sebuah pemaparan yang disampaikan Presiden Direktur ATB Ir Benny Andrianto Antonius MM disela-sela Media Gathering ATB bertajuk ‘Berbagi dalam berita’ pada Sabtu (23/2/2019) pagi, terlihat dengan jelas kondisi Waduk Tembersi yang diperkirakan hanya akan bertahan hingga 2022 mendatang.

BACA: Kepala BP Batam Ajak Masyarakat Jaga Wilayah Resapan Air Waduk Tembesi

Dimana pada bagian Hulu yang masuk dalam Catchment area atau wilayah tangkapan air Waduk Tembesi terlihat adanya banyak aktivitas manusia hingga bangunan perumahan yang memberikan kontribusi akan munculnya kontaminasi dalam Waduk yang nantinya akan menyuplai air bersih untuk kawasan Batuaji, Tanjunguncang dan sekitarnya.

Sementara di sisi lainnya, terlihat dengan jelas rusaknya kondisi alam yang disebabkan oleh aktivitas pertambangan liar, pemotongan lahan hingga perkebunan dan peternakan yang dilakukan oleh masyarakat.

Waduk Tembesi

“Saya tidak menyinggung siapapun, tapi ini bicara Batam Masa Depan. Jika ada perumahan disekitar daerah Catchment area, kan tidak mungkin warga yang sudah tinggal di perumahan tersebut diusir. Lalu limbah rumah tangga mereka dibuang kemana. Lalu pertanyaannya, bagaimana masa depan Waduk Tembesi?,” jelas Benny.

Hal yang sama juga terlihat pada kawasan perairan Waduk Tembesi yang memiliki kapasitas air sebanyak 600 liter per detik yang berwana Coklat, keruh dan cenderung kehitam-hitaman, dimana ada aktivitas pertambangan liar, perkebunan dan peternakan. Ironisnya, disekitar wilayah Waduk Tembesi juga terpantau tidak memiliki ruang kawasan hutan yang ditujukan untuk menyimpan air.

BACA: Kepala BP Batam: ATB Ikuti Lelang Waduk Tembesi

“Inilah kondisi Waduk yang digadang-gadangkan menjadi harapan. Bahkan kondisinya bisa dibilang lebih parah dari Waduk Sei Harapan. Dimana Sei harapan mengalami pendangkalan, sementara Tembesi Catchment Area yang rusak dan hancur. Dan hal ini pun, sudah saya sampaikan secara langsung ke Badan Pengusahaan (BP) Batam sejak kepemimpinan Hatanto Reksodipoetro dan Lukita Dinarsyah Tuwo. Namun belum kita sampaikan kepada pejabat yang baru Pak Edy,” jelasnya.

Ia pun mendesak BP Batam untuk bisa segera mungkin mengambil sikap. Mengingat kondisi defisit air sudah kian dekat, sementara pertumbuhan jumlah penduduk kian lama terus bertambah.

“Kita ini potensi defisit air. Sementara tender Waduk Tembesi saja baru dilakukan pada awal 2019 dan targetnya selesai pada April mendatang. Dan jika pelaksanaannya memakan waktu 1 tahun, berarti baru siap April 2020, kira-kira akan memunculkan masalah. Keluhan warga misalnya?,” tegas Benny.

Waduk Tembesi

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Tender pengelolaan Waduk Tembesi yang ada di Kota Batam saat ini sudah mulai memasuki tahapan Pra-Kualifikasi (PQ). Dan jika tidak ada halangan direncanakan akan diumumkan pemenang PQ-nya pada Senin (25/2/2019) mendatang.

Saat ini, ada 9 perusahaan yang masuk dalam PQ. Salah satunya PT. Adhya Tirta Batam (ATB).

Dimana sebelumnya ada 33 investor yang tertarik bekerjasama dalam pengelolaan Waduk Tembesi. Seperti PT Adhya Tirta Batam (ATB), PT Pembangunan Perumahan, Wijaya Karya, Waskita. Ada juga perusahaan dari luar negeri seperti dari Singapura, Jepang, Filipina dan lainnya.

Adapun taksiran nilai investasi yang akan dipekerjakan, mencapai Rp 250 miliar hingga Rp 300 miliar. (Iman Suryanto)

Berita Terkait