Home » Di Momen Idul Adha, Soerya Respationo Ajak Umat Muslim Teladani Lima Sifat Nabi Ibrahim

Di Momen Idul Adha, Soerya Respationo Ajak Umat Muslim Teladani Lima Sifat Nabi Ibrahim

IDNNews.id, Batam – Bakal Gubernur Kepri Dr. H. M. Soerya Respationo, S.H., M.H. mendapatkan kehormatan untuk memberikan sambutan di pelaksanaan Shalat Idul Adha di Halaman Masjid Amanatul Ummah Batam, Perumahan Duta Mas, Batam Center, Jumat (31/7/2020) pagi.

Pada kesempatan tersebut, pria yang pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur Kepri periode 2010-2015 ini pun melihat semangat kebersamaan dan gotong royong di masyarakat pada momen tersebut masih melekat erat dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya di Provinsi Kepulauan Riau.

Untuk itu, pihaknya meminta agar semangat berkorban, dan gotong-royong di kalangan bangsa Indonesia bisa terus dijaga dan dilestarikan.

Sehingga dapat menjadi prime mover atau penggerak utama untuk membawa seluruh rakyat Indonesia khususnya Kepri dalam mewujudkan kemajuan, persatuan dan kesejahteraan.

“Untuk itu, semangat kebersamaan dan gotong royong yang dilandasi kekeluargaan ini harus selalu dipupuk dan dijaga. Sehingga rasa persatuan dan kesatuan bisa selalu dijaga,” jelas Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Kepri ini.

Pada kesempatan yang sama, pihaknya juga mengajak seluruh lapisan masyarakat bisa mengambil hikmah dari Nabi Ibrahim. sehingga bisa semakin bertaqwa untuk bekal dalam menjalani hidup dan kehidupan ini.

Setidaknya terdapat 5 hal yang bisa untuk dipetik menjadi pelajaran dari Nabi Ibrahim. 

Pertama, keyakinan. Nabi Ibrahim telah memberi teladan yang amat penting untuk dicontoh. Dia sama sekali tidak takut, ketika mau dilempar diunggun api yang amat tinggi.

“Dia yakin Allah akan memelihara dan melindunginya. Hanya mereka yang yakin dan taqwa kepada Allah yang tidak merasa takut dan sedih ketika mendapat musibah atau ujian,” jelasnya.

Kedua, keikhlasan. Nabi Ibrahim telah menunjukkan pentingnya keikhlasan dan ketulusan dalam menjalani hidup ini. Ketika dia diperintahkan Allah untuk melakukan perjalanan jauh bersama puteranya Ismail dan isterinya, menuju suatu tempat yang kemudian dikenal sekarang Mekah, Nabi Ibrahim melakukannya dengan penuh keikhlasan dan ketulusan.

Baca Juga  Sambangi Natuna, Soerya Respationo Silaturahmi ke Tokoh Masyarakat

Begitu pula, ketika tiba ditempat yang dituju, yang tanpa penghuni, setelah sejenak tinggal ditempat itu bersama keluarga, kemudian Allah kembali memerintahkan untuk pulang ke Palestina, dengan meninggalkan isteri dan putera kesayangannya Ismail tanpa ada yang melindungi dan memberi makan, dia juga ikhlas melakukannya. Dia yakin Allah adalah sebaik-baik pelindung dan pemberi rezeki.

Ketiga, kesabaran. Nabi Ibrahim juga memberi teladan tentang pentingnya sabar dalam hidup ini. Sudah berdoa begitu lama kepada Allah supaya memperoleh seorang anak laki-laki yang akan melanjutkan keturunannya, tetapi doanya tidak kunjung terkabul.

Keluhan dan kepedihan Nabi Ibrahim dituangkan dalam doanya kepada Allah sebagaimana disebutkan dalam Alqur’an “Innii wahanal azmu minnii, wasyta’alarra’su syaibaa walam akun bidu’aaki rabbi syakiiya” (Sesungguhnya tulang-tulangku sudah mulai lemah dan rambutku sudah memutih, aduh hai celakanya, doaku tidak kunjung dikabulkan). Doa dan usaha Nabi Ibrahim akhirnya dikabulkan oleh Allah.

Keempat, ketabahan. Nabi Ibrahim memberi teladan, pentingnya sikap tabah dalam hidup ini.

“Oleh karena, hidup ini penuh tantangan dan permasalahan. Makin tinggi kedudukan seseorang dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik dan sebagainya, makin besar tantangan yang dihadapi. Nabi Ibrahim memberi pelajaran, pentingnya sabar dan tabah dalam menghadapi masalah,” jelasnya.

Kelima, konsisten (istiqamah). Nabi Ibrahim, juga mengajarkan pentingnya sikap konsisten atau istiqamah dalam hidup ini. Ketika melakukan pencaharian kebenaran, dia melihat mahatari, disangkanya itulah adalah Tuhan. Ketika matahari redup, dia mengatakan pasti bukan Tuhan.

Begitu pula ketika melihat bulan, disangkanya adalah Tuhan. Ketika redup, Nabi Ibrahim mengatakan, bulan pasti bukan Tuhan, karena redup.

Sikap konsisten (istiqamah) dalam hidup ini amat penting, tidak saja untuk mencari kebenaran, tetapi juga memperjuangkan segala sesuatu yang diyakini benar dan baik. Semua kesuksesan di dalam hidup ini, harus diperjuangkan dengan konsisten disertai doa dan usaha keras,” terangnya.(iman)


PERKEMBANGAN COVID-19 KASUS

DomaiNesia

Berita Terkait