Home ยป BAPPENAS: Meksiko dan Vietnam Paling Diuntungkan dari Perang Dagang China dan Amerika

BAPPENAS: Meksiko dan Vietnam Paling Diuntungkan dari Perang Dagang China dan Amerika

Ilustrasi Perang Dagang Amerika dan China

IDNNews.id, Jakarta – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, dua negara yang paling diuntungkan dari meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China adalah Vietnam dan Meksiko.

Dia menjelaskan, terhitung satu tahun perang dagang antara kedua negara ekonomi terbesar di dunia tersebut, ekspor China ke Amerika Serikat sudah menurun hingga 13 persen.

“Pertanyaannya, 13 persen yang hilang ini lari ke mana? Setelah kami lihat ada dua negara yang mendapatkan manfaat terbesar, yaitu Meksiko dan Vietnam,” ujar Bambang ketika di Badan Anggaran DPR RI, Jakarta, Selasa (11/6/2019).

Dia menjelaskan, terdapat beberapa faktor yang membuat kedua negara tersebut untung besar dengan adanya perang dagang. Untuk Meksiko, faktor utama adalah posisinya yang cenderung dekat dengan Amerika Serikat serta memiliki hubungan perdagangan bilateral dengan AS.

Ilustrasi Perang Dagang Amerika dan China

“Meski NAFTA (Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara/North American Free Trade Agreement)nya setengah dinonaktifkan AS tapi karena mereka mau bilateral dengan AS, jadi AS menganggap Meksiko sebagai trading partner yang masih bisa diterima,” ujar dia.

Sementara untuk Vietnam, menurut Mantan Menteri Keuangan ini, saat ini negara tersebut tengah getol mengembangan infrastruktur. Kondisi Vietnam saat ini menurut dia mirip dengan Indonesia di era 1990-an. Sebagian besar ekspor China ke Amerika Serikat adalah produk manufaktur.

Dengan demikian, Vietnam menjadi negara yang strategis untuk menambal produk-produk manufaktur yang tidak bisa diekspor oleh China.

Selain itu, Vietnam juga merupakan negara yang menerim fasilitas generalized system of preferences (GSP) atau kebijakan perdagangan memberi pemotongan bea masuk impor terhadap produk ekspor negara penerima.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan Indonesia yang saat ini tengah dievaluasi status GSP-nya.

Baca Juga  Besok, Nasdem Buka Pendaftaran Calon Kepala Daerah

“Vietnam itu mendapat lonjakan ekspor yg besar ketika China menurun salah satunya karena mereka masih punya fasilitas GSP, artinya mereka memiliki kemudahan ekspor barang ke AS kedua kalau tidak salah Vietnam tidak masuk dalam trade watch AS. Indonesia masuk,” ujar dia.

Ilustrasi Perang Dagang Amerika dan China

Sebelumnya, dalam Rapat Paripurna DPR RI, Selasa (11/6/2019) yang juga dihadiri Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, anggota DPR dari fraksi Partai Gerindra Bambang H menyampaikan ketidaksetujuannya terkait dampak perang dagang terhadap perekonomian Indonesia yang cenderung tertahan tahun ini.

Menurutnya, pandangan Sri Mulyani dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengenai dampak perang dagang terhadap ekonomi Indonesia tidak berdasarkan fakta atau hoax.

“Jadi, China yang dikorbankan AS masih mempunyai suatu pasar yang bagus untuk Indonesia. Apa yang dikatakan Menkeu tidak benar. Sama dengan pemhohongan masyarakat, hoaks. Dan kami mohon diluruskan,” ujar Bambang di Jakarta, Selasa (11/6/2019).

Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun menjelaskan, kondisi perang dagang antara China dengan Amerika Serikat saat ini nyatanya lebih merugikan Indonesia.

Ketika melakukan rapat kerja di Badan Anggaran (Banggar) DPR, dia mengatakan sepanjang tahun 2014 hingga kuartal II-2017, pertumbuhan ekspor Indonesia mengalami kontraksi. Sebab, Indonesia kala itu mengalami tekanan dari kondisi perekonomian global.

Hingga kemudian, di akhir 2017 hingga awal 2018, ekspor Indonesia mengalami perbaikan. “Kalau kita lihat pertumbuhan ekspor kita mengalami kontraksi, kalau tidak salah 2014 2015 2016 sampai 2017 kuartal II, dan mulai positif lagi di 2017 kuartal IV. Jadi memang waktu terjadinya 2014-2016 itu memang kita masuk di dalam suasana kondisi ekonomi global yg sangat menekan,” jelas dia.

Baca Juga  Wings Air Tambah Frekuensi Penerbangan dari Bandung ke Semarang dan Surabaya

“Harga komoditas jatuh dan volume ekspor menurun, ini yg menyebabkan kontraksi waktu itu. Kita sudah mulai melihat recovery yaitu mulai akhir 2017 dan berlangsung di 2018 tiba-tiba di akhir 2018 Presiden Trump melakukan eskalasi (perang dagang), ini kemudian yg menyebabkan seluruh revisi proyeksi global,” lanjut Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.

Ilustrasi Perang Dagang Amerika dan China

Dia pun mengatakan, seharusnya Indonesia mampu untuk menggunakan perang dagang untuk memerbaiki kondisi perekonomian dalam negeri seperti halnya negara kawasan Asia Tenggara lain, yaitu Vietnam.

Namun, allih-alih seperti Vietnam yang sebagian ekspornya adalah manufaktur sehingga bisa mencuri kesempatan mengambil alih ekspor China ke AS, mayoritas ekspor Indonesia yang berupa komoditas justru mengalami tekanan lantaran kondisi perekonomian China yang tengah mengalami moderasi.

“Poin kita hari ini adalah perekonomian kita ikut terbawa dengan global economic growth yang melemah dan itu disumbangkan karena dari China sedniri ekonominya juga mengalami tekanan apalagi mengalami moderasi dari pertumbuhan ekonominya. Maka permintaan barang-barang komoditas kita menjadi menurun dan itu yang menjelaskan mengapa ekspor kita mengalami kontraksi,” ujar dia.(*/kcm)


DomaiNesia

Berita Terkait