Home » BPOM Kepri Pantau Proses Penarikan Ranitin dari Peredaran

BPOM Kepri Pantau Proses Penarikan Ranitin dari Peredaran

IDNNews.id, Batam – Sebagai bentuk perlindungan terhadap masyarakat, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kepri melakukan pemantauan penarikan Raniditin di wilayah kerjanya

Kepala BPOM Kepri Yosef Dwi Irwan menjelaskan, Raniditin yang merupakan obat bagi gejala penyakit tukak lambung dan tukak usus.

Sesuai penjelasan resmi dalam website BPOM dijelaskan bahwa Badan POM saat ini sedang melakukan pengambilan dan pengujian beberapa sampel produk ranitidin.

Hasil uji sebagian sampel mengandung cemaran NDMA dengan jumlah yang melebihi batas yang diperbolehkan. Pengujian dan kajian risiko akan dilanjutkan terhadap seluruh produk yang mengandung ranitidin.

“Berdasarkan nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan, Badan POM memerintahkan kepada Industri Farmasi pemegang izin edar produk tersebut untuk melakukan penghentian produksi dan distribusi serta melakukan penarikan kembali (recall) terhadap bebrapa bets produk dari peredaran,” jelasnya.

Penarikan obat yang mengandung raditin disampaikan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sebagaimana disampaikan melalui portal resmi BPOM, https://www.pom.go.id/ .

Sebagaimana diketahui, proses penarikan dilaksanakan selama 80 hari kerja. Penarikan obat ini dilakukan setelah adanya informasi dari US Food and Drug Administration (US FDA) dan European Medicine Agency (EMA).

Dua lembaga di Amerika, dan Eropa itu, menyebutkan adanya cemaran cemaran NDMA di produk obat yang mengandung ranitidin. Ranitidin tersedia dalam bentuk sediaan tablet, sirup, dan injeksi.

Dan pada tanggal 13 September 2019, US FDA dan EMA mengeluarkan peringatan tentang adanya temuan cemaran NDMA dalam jumlah yang relatif kecil pada sampel produk yang mengandung bahan aktif ranitidin, dimana NDMA merupakan turunan zat Nitrosamin yang dapat terbentuk secara alami.

Studi global memutuskan nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan adalah 96 ng/hari (acceptable daily intake), bersifat karsinogenik jika dikonsumsi di atas ambang batas secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama.

Baca Juga  Interaktif, Cara Sekda Jefridin Memotivasi Pelajar di SMAN 3 Batam
IDNNews/Istimewa, BPOM Kepri dan tim gabungan menggeledah 15 Sarana distribusi di Anambas. Dalam temuan tersebut, tim menemukan produk-produk yang tidak layak edar dan kadaluarsa

Hal ini dijadikan dasar oleh Badan POM dalam mengawal keamanan obat yang beredar di Indonesia.

“Dalam rangka kehati-hatian, Badan POM telah menerbitkan Informasi Awal untuk Tenaga Profesional Kesehatan pada tanggal 17 September 2019 terkait Keamanan Produk Ranitidin yang terkontaminasi NDMA,” jelasnya.

Masyarakat yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang terapi pengobatan yang sedang dijalani menggunakan ranitidin, untuk menghubungi dokter atau apoteker.

“Masyarakat dihimbau agar tidak resah menanggapi pemberitaan yang ada, jika masyarakat memerlukan informasi lebih lanjut dapat menghubungi apoteker, dokter dan tenaga kesehatan lainnya,” jelasnya. (Iman Suryanto)


DomaiNesia

Berita Terkait