Home » Dewan Batam Mengaku Kecewa Terhadap ATB

Dewan Batam Mengaku Kecewa Terhadap ATB

Tak Pernah Sampaikan Pemaparan Pengelolaan Air Bersih

Werton

IDNNews.id, Batam – Ketua Komisi III DPRD Batam, Werton Panggabean disela-sela rapat dengar pendapat (RDP) terkait pengakhiran masa konsesi ATB oleh BP Batam mengungkapkan kekecewaannya. 

Mengingat, pihaknya belum pernah menerima pemaparan dari ATB terkait pengelolaan air bersih selama 25 tahun di Kota Batam.

Sehingga hal ini, sangat menyulitkan pihaknya dalam mencari solusi kedepannya.

“Kami menyayangkan kepada ATB, mengingat ATB belum pernah menyampaikan pemaparan dari pada pengolahan air bersihnya selama 25 tahun kepada kami. Apakah pengolahan air oleh ATB ini sudah bagus atau belum. Dan bagaimana mekanisme pengakhirannya. Itu yang tidak pernah kami diberitahu,” jelasnya.

Dan nantinya, tambahnya, dalam pengakhiran konsesi ini, pihaknya akan mendorong BP Batam sekaligus meminta kejelasan untuk layanan air bersih di tengah-tengah masyarakat.

“Siapa pun yang mengelola air bersih kedepannya, kami dari komisi III akan memprioritaskan yang memberikan pelayanan air harus benar-benar oleh profesional,” tegasnya.

Sebelumnya, ATB memastikan akan menarik inovasi SCADA yang digunakan untuk mengontrol pendistribusian air di seluruh Batam, jika tidak lagi diamanatkan untuk mengelola air Batam.

“Kalau kami tak kelola lagi (air bersih di Batam), maka SCADA juga kami ambil. Itu sudah hak paten kami. Kalau BP mau pakai, mari diskusi bisnis,” tegas Head of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus, Jumat (24/1) di Gedung ATB, Sukajadi.

Tak hanya menarik inovasi SCADA yang membuat ATB meraih banyak penghargaan nasional dan internasional dalam pengelolaan air bersih itu, ATB juga mengingatkan BP Batam bahwa dalam perjanjian konsesi, ada return on investment (ROI) atau pengembalian investasi yang ditanamkan ATB selama ini, jika benar-benar BP Batam tak memperpanjang kontrak dengan ATB. ROI itu wajib dikembalikan BP Batam ke ATB.

Baca Juga  Satgas Karhutla Polda Kepri 'Jinakan' Kebakaran Hutan di Nongsa Batam

Maria menyebutkan, nilai-nya Rp 350 miliar saat perjanjian awal konsesi. Namun, sekarang nilainya harus menyesuaikan dengan jumlah investasi yang sudah dikeluarkan ATB dalam mengembangkan distribusi air di Batam.

”Sekarang nilainya sudah mencapai Rp 1.017 triliun. BP harus verifikasi dan menghitung ulang bagaimana investasi ATB yang baru masuk hitungan. Itu harus dikembalikan ke ATB,” tegasnya lagi.

Pengembalian nilai investasi sebanyak Rp 350 miliar itu, termaktub dalam perjanjian awal yang bisa direalisasikan kalau jumlah pelanggan mencapai 107 ribu pada akhir konsesi, 15 November 2020.

”Saat ini kami sudah punya 290.488 pelanggan. Sudah sangat jauh dari key indicator. Kalau aset lama ya harus kembali ke BP. Tapi kalau fasilitas baru, maka harus dinilai dan berdiskusi apa yang harus dikembalikan,” paparnya. (Iman Suryanto)


DomaiNesia

Berita Terkait