Home ยป Hidup Sebatang Kara, Kakek Tua di Solok Ini Tinggal di Bekas Pos TPR

Hidup Sebatang Kara, Kakek Tua di Solok Ini Tinggal di Bekas Pos TPR

IDNNews.id, Solok – Di sebuah bangunan miris, bekas peninggalan Pos Tempat Pemungutan Restribusi (TPR) Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Seorang kakek yang hidup sebatang kara menghabiskan masa tuanya dengan makanan seadanya.

Dengan ukuran bangunan kurang lebih 4X3 meter itu, kakek tua yang di KTP tertulis, warga Jorong Batang Pamo, Nagari Pianggu Kecamatan IX Koto Sungai Lasi, Kabupaten Solok, Sumatera Barat itu diketahui bernama Kairudin dengan usia di KTP beliau 60 tahun.

Persisnya dijalan lintas Sumatera, sebelum mesjid Jihad Batang Pamo, di tempat itu Kakek Kairudin biasa ditemui. Di bagian dalam, hanya terdapat sebuah kasur yang ia gunakan sebagai tempat tidur.

FOTO/Istimewa/FB

Pengakuan Kairudin, ia tinggal sejak tahun 2003 lalu, dengan bekal seada nya tanpa dialiri penerangan dari PLN, Kairudin berusaha tegar dalam manyambung hidupnya. Bahkan tiga bulan belakangan ini kondisi beliau mulai sakit-sakitan.

Disaat beliau sehat, untuk bertahan hidup, kakek ini menjadi buruh serabutan dan menerima upah dari sawah orang lain.

“Sudah tiga bulan ini saya tidak bekerja lagi, jangankan untuk kesawah, berjalanpun saya mulai susah,” kata Kairudin saat di temui awak media, Kamis, (6/9/2019).

Disaat ditanya kenapa beliau tidak berobat, Kairudin mengaku, bahwa jangankan untuk berobat untuk makan saja hanya tinggal beras sisa sewaktu ia ke sawah dulu.

Kemudian soal bantuan dari pemerintah, ia mengaku dulu pernah mendapatkannya, yakni Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) yang sampai saat ini masih beliau simpan.

Namun hal itu sudah 2 tahun yang lalu dan katanya sudah mati dan tidak dapat dipergunakan lagi.

Meski sudah tua, miskin dan hidup sebatang kara, Kairudin tak pernah ingin minta-minta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Baca Juga  BNN Kepri Musnahkan Ribuan Kilogram Narkoba

Bahkan ia pun tak menghiraukan apakah ia diperhatikan oleh pemerintah atau tidak.

“Saya tak akan pernah minta-minta, untuk makan alhamdulillah kadang-kadang suka ada yang memberi dari warga sekitar sini,” tukas pria paruh baya dengan wajah tersenyum.

Saat ditanya soal keluarga, Kairudin mengaku hanya tinggal seorang diri. Tak memiliki anak atau istri. Ia pun mengaku tidak memiliki saudara-saudara, sanak famili atau kerabat dekatnya.

“Saya tak punya anak dan istri. Dulunya saya punya keluarga dekat, namun mereka telah dulu menghadap sang khalid. Saya sendirian saja selama ini,” pungkasnya tersenyum getir.

Semasa ia sehat, Kairudin mengaku dapat upah dari hasil sawah orang lain rata-rata Rp 50.000-Rp 70.000 per hari.

“Sekarang saya tidak sanggup kerja lagi karena kondisi sudah tua dan sakit-sakitan,” sambungnya.

Kini beliau sudah sakit-sakitan, tentu kisah kakek tua ini, butuh bantuan dan perhatian dari pemerintah setempat. Dari wajahnya terlihat senyum bahagia, namun isi hati kakek tua ini entah mau berkata apa.(Nofri Guntala)


DomaiNesia

Berita Terkait