Home » Majelis Hakim ‘Cecar’ Terdakwa Tahir Ferdian dalam Perkara Penggelapan di PN Batam

Majelis Hakim ‘Cecar’ Terdakwa Tahir Ferdian dalam Perkara Penggelapan di PN Batam

IDNNews.id, Batam – Persidangan dengan perkara penggelapan dalam jabatan, aset milik PT TC, dengan terdakwa Tahir Ferdian Alias Lim Chong Peng, kembali di gelar di Pengadilan Negri (PN) Batam, Selasa (5/11/2019).

Dalam kali ini, Persidangan dipimpin Majelis Hakim yang Dwi Nuramanu didampingi dua Hakim Anggota dengan agenda membacakan keterangan saksi (pelapor) Ludianti Taslim.

Dalam dakwaan, Jaksa Penuntut Unum (JPU) menuntut terdakwa Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng dengan nomor perkara 731/Pid B/2019/Pan Btm, dengan ancaman pidana pasal 372 KUHPidana.

Majelis Hakim pun melontarkan belasan pertanyaan kepada terdakwa. Diantaranya apakah terdakwa sengaja menjual aset perusahaan berupa mesin produksi kepada pihak ketiga hingga melakukan pemindahan sebagian besar unit mesin daur ulang plastik beserta bahan baku biji plastik, dari lokasi pabrik Industri Sekupang ke gudang di wilayah Kecamatan Bengkong, Batam.

Baca Juga  Warga Karimun Antusias Sambut Kedatangan Soerya Respationo di Pelabuhan

“Saya tidak menjual aset perusahaan yang mulia. Namum kami ingin memperbaiki mesin pabrik tersebut,” jelas terdakwa.

Sebagaimana diketahui, Terdakwa Tahir merupakan komisaris di PT Taindo Citratama sejak Tahun 2002, setelah mengakuisi saham senilai Rp 25 Miliar.

Tahir memiliki saham sebesar 50 persen, di perusahaan yang bergerak di bidang daur plastik di Sekupang tersebut.

Akibat krisis finansial pada tahun 2006, perusahaan tersebut tutup beroperasi. Penutupan pabrik, maka PT Taindo Citratama harus membayar uang PHK kepada 104 karyawan, dengan total Rp. 1,1 miliar.

Dan tanpa rapat umum pemegang saham (RUPS), pada Tahun 2015 Terdakwa menjual aset berupa lahan, bangunan dan peralatan produksi.

Baca Juga  Keluarga Besar Nurdin Basirun Doakan Soerya Respationo Sukses di Pilkada Kepri
terdakwa Tahir Ferdian
terdakwa Tahir Ferdian

Sementara itu, Korban Ludjianto Taslim mengatakan, pada Tahun 2016, sebagai Direktur pihaknya wajib melaporkan neraca dan rugi laba selama perusahaan beroprasi kepada pemegang saham.

Setelah pabrik tidak beroprasi lagi, untuk meminimalisir kerugian, pemegang saham berupaya menjual pabrik beserta aset lainnya kepada PT Indoport senilai Rp. 40 miliar melalui Appraisal dengan nomor 72/SK/DIR/iu/ix/2016.

Setelah bernegosiasi panjang proses pembelian tercapai, namun kata Ludjianto, setelah pembeli datang ke lokasi pabrik, sebagian besar mesin produksi sudah tidak ada alias hilang.

“Sehingga, kami mengalami kerugian berupa saham sebesar 50 persen, dengan nilai aset sebesar Rp 25,77 miliar,” tuturnya. (*)


DomaiNesia