Home ยป Museum Ini Jadi Saksi Bisu Perkembangan Bank Indonesia di Nusantara

Museum Ini Jadi Saksi Bisu Perkembangan Bank Indonesia di Nusantara

IDNNews.id, Jakarta – Indonesia, khususnya beberapa Kota-kota di dalamnya pastinya memiliki sejarah dalam perkembangannya sejak awal hingga saat ini. Dan untuk lebih memberikan pehamanan akan masa lalu kepada generasi muda, tentunya di setiap kota memiliki museum yang menyimpan berbagai jenis peninggalan sejarah.

Hal yang sama juga terlihat di Museum Bank Indonesia yang masuk sebagai bangunan cagar budayater yang dilindungi oleh Pemerintah. Museum ini terletak di kawasan Kota Tua, Fatahillah, Jakarta. Disini, terdapat berbagai peninggalan terkait Bank Indonesia sejak jaman penjajahan, kemerdekaan hingga saat ini.

Sehingga Museum Bank Indonesia menjadi sebuah sarana edukasi bagi publik dan informasi tentang sejarah kelembagaan, uang, gedung, dan arsitektur hingga berbagai kebijakan yang dibuat oleh Bank Indonesia.

Aji, pemandu Museum Bank Indonesia saat menemani rombongan Capacity Building Kehumasan BI Kepri di Jakarta pada Sabtu (21/9/2019) siang menjelaskan, Museum Bank Indonesia dahulunya merupakan bangunan de Javasche Bank (DJB) yang dibangun pada 1935. Dimana pada awalnya, DJB menempati bangunan 2 lantai di bekas sebuah rumah sakit yang bernama Binnen Hospital.

Dan hingga saat ini, bangunan museum telah lima kali mengalami pemugaran dan renovasi hingga bentuknya seperti saat ini dengan total keseluran luasnya mencapai 13.000 meter persegi.

“Sejak dijadikan rumah sakit, bangunan Museum juga telah beberapa kali beralih fungsi hingga pada tahun 1953 menjadi kantor pertama Bank Indonesia,” jelasnya.

Berkunjuang di Museum ini, memberikan kesan yang sangat berbeda dari yang lainnya. Mengingat, saat kami berkunjung kesan sepi dan ‘horor’ tidak terlihat.

Bahkan antrean panjang untuk masuk ke sejumlah lokasi, membuat pegawai dipemandu membuat semacam ‘traffic light’ bagi kami. Sehingga bisa dengan leluas melihat dan mengabadikan semua momen yang ada di museum.

Baca Juga  Interaktif, Cara Sekda Jefridin Memotivasi Pelajar di SMAN 3 Batam

Selanjutnya, di Museum ini juga terdapat Playmotion. Dimana kita menangkap bayangan koin yang berjatuhan di ruang ini, dan bisa diketahui secara langsung tahun pembuatannya dan bahan yang digunakan.

Selain itu, ruang sejarah. Disini terdapat berbagai jenis koleksi museum, sejarah BI dan keuangan Indonesia ditampilkan dengan teknologi yang kekinian dan pastinya instagramable. Ruang sejarah juga dibagi menjadi beberapa periode. Mulai dari kisah panjang menuju kemerdekan Indonesia, periode pra BI, masa krisis moneter, proses berbenah pasca-krisis hingga fokus ulang peran BI.

Semua informasi disajikan lengkap dengan visualisasi yang memanjakan mata. Selanjutnya, ruang perenungan. Dimana awalnya ruang perenungan merupakan bagian dari Binnen Hospital. Saat gedung ini digunakan oleh DJB di tahun 1828, ruangan ini difungsikan sebagai ruang rapat direksi. Ruang tersebut mengalami perubahan seiring renovasi gedung DJB tahap 2 di tahun 1922.

Hasil renovasinya bisa kita lihat sampai sekarang di bagian ini. Dinding keramik hijau yang elegan dan menyejukkan, mengalirkan energi positif dalam berbagai pengambilan keputusan. Sejak saat itu ruang ini dikenal dengan ruang hijau.

Tapi di akhir masa DJB, ruangan ini sudah berubah fungsi menjadi ruang kerja bagi afdeling centrale administratie atau administrasi pusat. Fungsi ini kemudian diteruskan oleh BI dan ditambah ruang baru dengan sekat kayu sebagai ruang kerja bagian lainnya.

Kemudian, kami diajak untuk menuju ruang emas moneter. Disini, tumpukan emas batangan yang dikelilingi kaca tebal, pada masanya pernah berfungsi sebagai penjamin uang yang beredar di Indonesia.

Bahkan, kami juga merasakan sensasi bagaimana mengangkat emas batangan palsu dari sebuah lemari kaca.

“Ini adalah imitasi atau palsu. Namun berat dan bentuknya mirip dengan emas batangan yang asli. Jika dinominalkan, satu batang emas ini bernilai Rp 7,5 miliar,” kata Aji menjelaskan.

Aji pun membawa kami ke sebuah ruangan berikutnya bernama Ruang Numismatik. Disini berbagai jenis uang koin dan kertas dari masa dipajangkan. Mulai dari masa kerajaan, masa kolonial, awal kemerdekaan RI, uang pemerintahan, uang token, hingga uang khusus.

Baca Juga  Peringati 1.000 Hari, Soerya Ajak Anak-anaknya untuk Satu dalam Kata dan Perbuatan

Salah satunya adalah uang Rupiah Kepulauan Riau (KR Rp). Uang jenis ini, dikeluarkan oleh Bank Indonesia pada Oktober 1963 yang ditujukan untuk mengatasi penggunaan dollar Malaya di wilayah Kepulauan Riau.

Namun pada 1 Juli 1964, KR Rp ditarik dari peredarannya dan digantikan dengan uang Rupiah yang berlaku secara umum di wilayah Republik Indonesia.Di lokasi ini, juga terdapat kaca pembesar yang bisa kita geser untuk mengamati koleksi uang.

Ada juga koleksi mata uang dari berbagai negara yang disimpan di lemari geser yang terbuat dari kaca.

Penasaran ingin berkunjung kesini? Cek jam buka Museum pada Selasa – Jumat pukul 08.00 – 15.30 WIB dan Sabtu – Minggu pkul 08.00 – 16.00 WIB. Tutup pada Senin dan hari libur nasional. Harga tiket masuk Rp 5.000 per orang. Dan selama berkunjung ke lokasi, dilarang untuk mmbawa makanan dan minuman selama berkunjung. Selama menyaksikan. (Iman Suryanto)


DomaiNesia

Berita Terkait