Home » Oknum Operator Kapal Diduga Jadi Penyebab Rusaknya Kabel Laut di Perairan Kepri

Oknum Operator Kapal Diduga Jadi Penyebab Rusaknya Kabel Laut di Perairan Kepri

Direktur Utama Triasmitra, Titus Dondi
Direktur Utama Triasmitra, Titus Dondi

IDNNews.id, Batam – Masih ‘membandel’ oknum operator kapal yang tengah berlayar di sekitar perairan Indonesia, khususnya wilayah Kepulauan Riau yang tidak menyalakan Automatic Identification System (AIS), membuat ‘kesal’ sejumlah perusahaan kabel laut.

Mengingat, banyak dari oknum tersebut sulit diajak berkomunikasi untuk tidak membuang jangkar di sekitar jalur kabel laut berada. Walhasil, kondisi ini membuat kerusakan pada sistem komunikasi kabel laut (SKKL).

Direktur Utama Triasmitra, Titus Dondi saat ditemui IDNNews.id disela-sela Sosialisasi Pengamanan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) di Swiss-Bel Hotel, Harbour Bay Batam pada Selasa (15/9/2019) mengatakan bahwa sepanjang tahun 2013 hingga saat ini, tercatat terjadi 69 kali kabel putus di sekitar perairan Indonesia.

Direktur Utama Triasmitra, Titus Dondi
Direktur Utama Triasmitra, Titus Dondi

Dan dari jumlah tersebut, sekitar 60 persen kabel putus disebabkan oleh aktivitas lepas jangkar kapal, 25 persen karena vandalisme (diambil) dan 10 persen karena dampak dari kejadian alam seperti gempa dan lainnya (di area timur).

Baca Juga  Disuntik Vaksin Corona, Lansia di Norwegia Meninggal Dunia

“Dari jumlah tersebut, sekitar 30-40 persen diantaranya berada di perairan Provinsi Kepri. Mengingat, perairan Kepri memliki jalur lalulintas lautnya terbilang sangat padat dan ramai. Untuk di Kepri sendiri lebih banyak disebabkan oleh labuh jangkar dan disusul vandalisme,” jelas Titus Dondi sambil menjelaskan operator pemilik kabel laut yang putus tersebut. Mulai dari Telkom, Indosat, Kominfo hingga Palapa Ring Barat.

Yang menarik adalah, tambahnya, yang melintasi perairan Indonesia, khususnya Kepri lebih dari 5.000 kapal setiap harinya. Dan semuanya melewati kabel laut.

Dimana ada 1.000 dari 5.000 kapal yang melintas tadi, kecepatannya melambat dan kurang dari 2 Knot.

Dan dari 1.000 kapal tadi, ada ratusan kapal yang memang mau ‘membuang’ jangkar. Dan tidak menyalakan AIS. Oleh karena itu, pihaknya selalu melakukan monitoring dengan maksimal. Sehingga tidak sampai terjadi insiden kabel putus.

Baca Juga  Satu Rumah di Teluk Keriting Tanjungpinang Ludes Terbakar

Mengingat, jika dinyalakan tentunya dampak putus kabelnya bisa dikurangi dengan hanya melakukan pemantauan pada AIS.

“Dengan AIS, kita bisa memantau dan menghubungi mereka agar tidak parkir sembarangan. Akan tetapi, ketika AIS-nya dimatikan, kita kehilangan kontrol atas kapal tersebut,” tambahnya.

Sebagaimana diketahui, Untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan pelayaran, Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mewajibkan penggunaan Automatic Identification System (AIS) pada kapal yang berlayar di perairan Indonesia.

Aturan wajib AIS ini ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 7 Tahun 2019 tertanggal 20

Februari 2019. Dan mulai berlaku efektif 20 Agustus 2019 terhadap seluruh kapal yang berlayar di perairan Indonesia, baik kapal konvensi dan non konvensi serta berbendera asing maupun bendera Indonesia.

Baca Juga  Greysia/Apriyani Juara Yonex Thailand Open 2021

Automatic Identification System (AIS) adalah perangkat navigasi yang berkembang setelah sistem radar.

AIS sesungguhnya adalah perangkat transceiver, yang mampu secara otomatis memancarkan dan menerima data navigasi (ID kapal dan posisi) melalui sinyal radio Very High Frequency (VHF).

Sebelumnya, IMO menetapkan AIS beroperasi pada frekuensi 161,975 MHz dan 162,025 MHz. Dimana Jangkauan transmisi AIS sekitar 35 mil dengan syarat tidak ada penghalang antara antena pemancar dan penerima.

Sinyal yang dipancarkan oleh AIS dapat diterima oleh kapal yang memiliki perangkat AIS, stasiun darat berupa VTS dan Sistem radio pantai (SROP) dan satelit (AIS Receiver Satellite).

“Untuk itu, kapal-kapal yang berukuran hingga 300 GT ke atas, diwajibkan untuk menyalakan AIS selama berlayar di perairan Indonesia,” jelasnya. (Iman Suryanto)


DomaiNesia