OPINI: Bukankah Pilkada Merupakan ‘Pesta’ Demokrasi?

Atanasius Dula, S.A.P
Atanasius Dula, S.A.P

Hakekat Pilkada

Secara subtansi, pilkada bukan semata mengganti orang atau pemimpin, pilkada bukan lahan bisnis partai politik, dan pilkada bukan nilai tukar tamba rupiah; tetapi pilkada, adalah instrumen suksesi kekuasaan melalui pemilihan umum, sebagai sebuah proses peralihan kekuasaan secara periodik dan tertib, yang mampu memobilisasi pendapat publik, dan menjadi sarana bagi rakyat untuk menyalurkan aspirasinya.

Bila semua aktor yang terlibat dalam perhelatan politik pilkada, menyadari baik hakekat pilkada di atas, maka seyogyanya ruang publik harus diisi dengan edukasi politik yang santun, yang menampilkan gagasan-gagasan bernas dari masing-masing kandidat, yang menjual ide pembangunan yang inovatif dan berpihak pada rakyat, untuk kemudian menjadi komoditi yang layak dijual ke publik.

Baca Juga  Sembunyikan Sabu 18,3 Gram di Tas, Pemudik Ini Diamankan Bea Cukai Batam

Artinya momentum Pilkada, seharusnya menjadi gelanggang pertengkaran ide dari masing-masing kandidat, bukan sekadar memoles kekurangan kandidat lantas memaksa publik untuk memilih kepala daerah yang krisis ide atau gagasan, yang pada akhirnya semakin menggeser makna pilkada dari tujuan asasinya, karena panggung politik hanya menjadi ruang adu jotos kekurangan paslon, bukan adu ide atau gagasan.

Dalam demokrasi tanpa kedalaman etika seperti ini, hal-hal sepele mengambang di permukaan, membiarkah hal-hal berbobot substantif tenggelam. Politik sebagai ruang penampakan, sekadar dihiasi oleh basa-basi etiket; pola gerak tutur sebagai teknis pengelolaan kesan. Adapun substansi etika politik, sebagai perkhidmatan kepada kebajikan hidup bersama, dikaramkan.

Pada titik ini, sulit kita menemukan para politikus dan pekerja intelektual (baca Tim Sukses) yang secara tekun mengembangkan penalaran secara jernih dan mendalam untuk mengemas sebuah konsep politik yang santun, yang rasional, untuk dikonsumsi publik.

Baca Juga  Bolehkan Bayar Zakat Fitrah dengan Uang? Berikut Penjelasan Majelis Ulama Indonesia

Yang terjadi hanya aksi saling serang, saling mencari titik lemah lawan, lantas membungkam dengan alibi yang irasional.


DomaiNesia