OPINI: Bukankah Pilkada Merupakan ‘Pesta’ Demokrasi?

Atanasius Dula, S.A.P
Atanasius Dula, S.A.P

Bukankah Pilkada adalah Sebuah “Pesta” Demokrasi?

Kendati diwarnai dengan carut marut Politik dalam ruang publik, namun pemilu ataupun pilkada, sering diistilahkan sebagai sebuah “pesta demokrasi”. Satu istilah yang mulai dikenal sejak pemilu tahun 1982, yang dipopulerkan oleh Soeharto.

Dalam pidatonya pada Pembukaan Rapat Gubernur/Bupati/Walikota se-Indonesia di Jakarta, Senin, 23 Februari 1981, Soeharto mengatakan: “Pemilu harus dirasakan sebagai pesta poranya demokrasi, sebagai penggunaan hak demokrasi yang bertanggung jawab, dan sama sekali tidak berubah menjadi sesuatu yang menegangkan dan mencekam”.

Isi pidato itu juga mencerminkan pandangan Soeharto mengenai Pemilu. Sebuah pandangan yang kemudian mempengaruhi jalannya Pemilu dan pilkada di Indonesia dari masa ke masa. Bagi Soeharto, pemilu dilaksanakan untuk memperkokoh persatuan Nasional, mendewasakan kehidupan demokrasi, dan menggelorakan semangat pembangunan.
Sebaliknya, Pemilu bukan untuk mencerai-beraikan persatuan Nasional, melemahkan kehidupan demokrasi, dan menghambat persatuan Nasional.

Baca Juga  Libur Lebaran, Saatnya ke di HARRIS Resort Barelang. 'Banyak Promo Loh'

Pada hakikatnya, pesta adalah sebuah acara sosial yang dimaksudkan terutama sebagai perayaan dan rekreasi. ‘Pesta’ dapat bersifat keagamaan atau berkaitan dengan musim, atau, pada tingkat yang lebih terbatas, berkaitan dengan acara-acara pribadi dan keluarga untuk memeringati atau merayakan suatu peristiwa khusus dalam kehidupan yang bersangkutan.

Pesta merupakan kesempatan untuk berbagai interaksi sosial, tergantung pada pesertanya dan pemahaman mereka tentang perilaku yang dianggap layak untuk acara tersebut. (Wikipedia)

Esensi dari pesta, dengan demikian adalah adanya suasana khidmat atau bergembira. Jarang kita melihat satu pesta menjadi ajang perkelahian, keributan, atau ajang caci maki.

Inilah yang harus kita jaga, bukan saja saat pilkada itu berlangsung, namun lebih jauh dari itu, proses-proses menjelang pilkada pun harus diisi dengan suasana kegembiraan dalam proses perkenalan calon, jargon-jargon kampanye, maupun gagasan-gagasan pembangunan yang diusungnya.

Baca Juga  Sepanjang Tahun 2021, Santunan untuk Korban dari PT Jasa Raharja Kepri Alami Peningkatan

Membangun kesadaran publik untuk memaknai pilkada sebagai “pesta demokrasi” menjadi penting. Bila kita mengabaikan aspek ini, maka esensi kegembiraan dari sebuah pesta akhirnya tidak ada sama sekali.

Yang ada hanya kebencian, saling mencurigai, dan kepicikan berpikir bahwa kandidat pilihannya merupakan yang terbaik, tanpa argumentasi yang rasional dan didasari rasa emosional.


DomaiNesia