Home » Pasca-Digusur, Pedagang Pasar Induk Jodoh Rugi Miliaran Rupiah

Pasca-Digusur, Pedagang Pasar Induk Jodoh Rugi Miliaran Rupiah

Suasana penertiban Pedagang di Pasar Induk Jodoh, Batam, Provinsi Kepri, Rabu(30/10/2019) pagi. IDNNews.id/Iman Suryanto

IDNNews.id, Batam – Beberapa Minggu pasca-penggusuran Pasar Induk Jodoh yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Batam dengan dalih Revitalisasi, berdampak pada ekonomi para pedagang.

Mengingat, para pedagang pasar induk yang mayoritas merupakan supplier kebutuhan hidup sehari-hari ini diketahui mengalami kerugian cukup fantastik. Dimana bahan baku kebutuhan hidup yang ada dalam gudang milik belasan pedagang sudah mengalami kebusukan.

IDNNews/Iman Suryanto, Aksi Unjuk Rasa yang dilakukan oleh para pedagang korban penggusuran Pasar Induk Jodoh di pintu masuk Gedung Pemko Batam beberapa waktu lalu.
IDNNews/Iman Suryanto, Aksi Unjuk Rasa yang dilakukan oleh para pedagang korban penggusuran Pasar Induk Jodoh di pintu masuk Gedung Pemko Batam beberapa waktu lalu.

“Ada sekitar 15 pedagang yang memiliki gudang, buah-buahnya sudah mengalami kebusukan. Dimana perorangnya, rata-rata mengalami kerugian lebih dari Rp 50 juta. Itu kerugian saat penggusuran, yang mana artinya kalau dikali 15 kerugian mencapai Rp 750 juta,” kata Boni, salah satu perwakilan pedagang saat ditemui awak media di Pasar Induk Jodoh, Rabu (13/11/2019).

Kerugian tersebut diungkapkannya baru kerugian pada saat pembongkaran, belum terhitung kerugian para pedagang yang tidak dapat berjualan sejak, Rabu (30/10/2019) lalu.

Hal tersebut dikarenakan, para pedagang yang rata-rata merupakan supplier kebutuhan hidup unutk Tos 3000 dan pasar lainnya, tidak lagi dapat mensuplai 9 bahan pokok.

“Artinya, kalau pasokan perkurang, bahan kebutuhan akan langka. Dan menyebabkan harga menjadi naik. Selanjutnya akan menjadi beban masyarakat nantinya,” tegasnya.

Boni mengungkapkan, pada tahun 2002 para pedagang ini berlokasi di Blok L, namun saat itu mereka diminta pindah ke Tempat Penampungan Sementara (TPS), lalu pada tahun 2004-2005, pemerintah kembali meminta mereka pindah ke Pasar Induk Jodoh dengan biaya yang besar.

“Saat itu kami pindah ke Pasar Induk dan disuruh bayar Rp 40 juta sampai Rp 50 juta, tapi pada saat pedagang mau masuk pasar, sudah beredar sertifikat bodong dan kami diminta berjualan di pinggir jalan. Tapi tiba-tiba digusur tanpa adanya pemberitahuan, kerugian kami pun tidak dipedulikan Pemko Batam,” ungkapnya.

Baca Juga  Jumat Keliling Polda Kepri, Kabid Humas: Bijaklah Menggunakan Media Sosial

Hingga akhirnya janji Pemko Batam saat RDP di DPRD Batam beberapa waktu lalu. Bahwa Pemko Batam telah menyepakati tuntutan-tuntutan dari para pedagang.

IDNNews/Iman Suryanto, Aksi Unjuk Rasa yang dilakukan oleh para pedagang korban penggusuran Pasar Induk Jodoh di pintu masuk Gedung Pemko Batam beberapa waktu lalu.
IDNNews/Iman Suryanto, Aksi Unjuk Rasa yang dilakukan oleh para pedagang korban penggusuran Pasar Induk Jodoh di pintu masuk Gedung Pemko Batam beberapa waktu lalu.

Dimana dalam tuntutan tersebut, para pedagang meminta untuk membuka pagar pada lahan seluas 0,57 hektar yang berlokasi tepat di samping Pasar Induk Jodoh.

Lokasi sementara tersebut nantinya diperuntukan para pedagang yang terdampak penggusuran, untuk kembali menjalani aktivitasnya hingga Pasar Induk Jodoh selesai di revitalisasi.

“Tapi saat ketemu Gustian Riau dikantornya, dia malah suruh kami kembali menempati pasar sementara yang dikelola oleh pihak swasta, disana kami kembali dipungut biaya sewa Rp 1 juta perbulan,” ujarnya.(*)


DomaiNesia

Berita Terkait