Home » Pemko Batam Respon Rencana Kenaikkan Tarif Listrik

Pemko Batam Respon Rencana Kenaikkan Tarif Listrik

IDNNews.id, Batam – Rencana kenaikkan tarif gas industri dan diduga akan mendongkrak tarif listrik yang ada di Kota Batam mendapatkan respon dari sejumlah pelaku usaha.

Dalam dialog antara pengusaha dan Kepala BP Batam HM Rudi yang digelar di Harmoni One, Batam Center diketahui, BP Batam dan Pemerintah Kota Batam tengah mencari solusi terbaik.

Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad saat ditemui awak media mengatakan saat ini Pemerintah Kota (Pemko) Batam tengah berupaya mencarikan solusi terbaik kepada pengusaha.

“Terkait listrik, peran kita di daerah hanya peran koordinasi. Wali Kota Batam sudah berupaya secara maksimal,” kata Amsakar, Jumat (4/9/2019).

Soal rencana naiknya tarif listrik ini, tambahnya, ada hal yang langsung bisa dijangkau. Namun ada juga hal yang hanya bisa disampaikan sebagai aspirasi.

Sebagaimana diketahui, Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menegaskan bahwa gas bumi masih menjadi salah satu sumber energi yang paling efisien di Indonesia.

Di kawasan Asia, harga gas yang disalurkan PGN juga masih sangat kompetitif. Kecuali jika dibandingkan dengan harga gas di Malaysia yang mendapatkan subsidi dari pemerintah negara itu.

Berdasarkan data sejumlah lembaga energi terkemuka seperti Woodmack (2018) dan Morgan Stanley (2016), harga gas bumi kepada sektor industri di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan harga di Singapura dan Cina.

Di Singapura konsumen industrinya membeli gas berkisar USD 12,5 – USD 14,5 per MMBtu. Sementara industri di Cina harus membayar lebih mahal lagi yaitu mencapai USD 15 per MMBtu.

PGN Gaslink

“PGN menjual gas kepada pelanggan akhir berkisar antara USD 8 – USD 10 per MMBtu. Harga itu terbentuk dari berbagai sumber baik gas sumur maupun LNG yang harganya jauh lebih tinggi,” jelas Rachmat Hutama, Corporate Secretary PGN di Jakarta, Kamis (26/9).

Baca Juga  Interaktif, Cara Sekda Jefridin Memotivasi Pelajar di SMAN 3 Batam

Rachmat menegaskan, sejak tahun 2013 PGN tidak pernah menaikkan harga gas kepada konsumen industri. Sementara biaya pengadaan gas, biaya operasional dan kurs USD terus meningkat.

Secara akumulasi, sejak 2013 hingga saat ini kurs USD telah mengalami kenaikan hingga 50 persen. Biaya pengadaan gas selama ini menggunakan patokan USD.

“Dengan beban biaya yang terus meningkat tentunya ruang bagi PGN untuk mengembangkan infrastruktur gas bumi menjadi makin terbatas. Sementara banyak sentra-sentra industri baru, seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang belum terjamah gas bumi,” tegas Rachmat.(*)


DomaiNesia

Berita Terkait