Home ยป POJOK OPINI. Surya Makmur: Jangan Golput, Gunakan Hak Suaramu!

POJOK OPINI. Surya Makmur: Jangan Golput, Gunakan Hak Suaramu!

RELEVANKAH memperbincangkan tentang golongan putih alias Golput dalam konteks Pemilu 2019 yang akan datang ini ? Jawabnya, masih relevan. Relevan karena kita ingin partisipasi warga menggunakan hak pilihnya pada Pemilu Rabu 17 April 2019 lebih banyak dan semakin meningkat dari sebelumnya.

Fakta menunjukkan dari Pemilu ke Pemilu jumlah persentase Golput masih ada, dan akan tetap ada pada Pemilu 2019. Dalam tulisan Fandy Hutari, 20/8/2018 di media online Tirto.Id, jumlah Golput pada Pemilu Legislatif 6,67 % (1971), 8,4% (1977), 10,4% (1999), 29,01% (2009). Pemilu Presiden 27,77 persen (2009).

Pemuda Muhammadiyah Kota Batam mencoba mengangkat isu Golput ini sebagai topik diskusi : “Pemuda Anti Golput”. Diskusi dilaksanakan dalam rangkaian Pelantikan Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah di Kantor Dinas Pemuda Olahraga Kota Batam, Kamis (7/3/2019).

Sebagai salah satu narasumber, saya menjelaskan, bahwa partai putih alias Golput tetap ada. Hanya saja, muncul pertanyaan, apakah Golput sekarang ini masih bersifat ideologis atau non-ideologis yang bersifat individualis. Itulah yang perlu dijelaskan tentang Golput saat ini.

Sejarah mencatat, aksi Golput muncul pada Pemilu 5 Juli 1971 yang dimotori oleh para pemuda dan mahasiswa pada awal rezim Orde Baru berkuasa. Jumlah pesertanya 10 partai, dua diantaranya kontestan baru, yaitu Golkar dan Partai Muslimin Indonesia (Parmusi).

Adapun Parpol lama, Partai Katolik, Partai Syarikat Islam Indonesia, NU, Parkindo, Musyawarah Rakyat Banyak (Murba), PNI, Persatuan Tarbiah Islamiah (Perti), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia.

Jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan Pemilu 1955 dengan sistem multi partai, karena sejumlah parpol dibubarkan, seperti PKI, Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia.

Fandy Hutari mengutip, laporan Tempo edisi 19 Juni 1971, gerakan Golput menjadi membesar setelah sekelompok pemuda, seperti Arief Budiman, Imam Walujo, Husin Umar, Marsilam Simandjuntak, Asmara Nababan, dan Julius Usman, yang menamakan diri mereka Kelompok Oposisi.

Baca Juga  Hadirkan Tiga Saksi, Sidang dengan Terdakwa Tahir Ferdian Kembali Digelar di PN Batam

Lantas, Partai Putih, yang tanpa tanda gambar bermetamorfosis menjadi golongan putih yang memiliki simbol gambar segilima hitam di atas dasar putih polos. Dulu, aksi Golput terhadap rezim Orba sebagai aksi protes karena kebebasan berserikat dan berkumpul dibatasi bahkan diintervensi.

Menentukan pimpinan parpol saja harus restu pemerintah. Dalam mempertahankan kekuasaannya pemerintah membentuk parpol sendiri : Golkar. PNS harus menjadi anggota Golkar kalau tidak mau dipecat.

Meski saat ini sistem partai politik dan Pemilu sudah berubah, tetap saja masih ada Golput. Ada yang bersifat ideologis, akan tetapi, tak sedikit pula yang non ideologis bersifat individualis. Boleh jadi, ada yang Golput karena calon yang akan dipilih tidak sesuai harapan dan cita-citanya. Lu lagi lu lagi.

Ada juga karena secara individu memang menganggap Pemilu tidak penting, merasa tidak terkait langsung dengan kepentingan pribadi hingga tak datang ke TPS. Waktu Pemilu dimanfaatkan untuk liburan.

Sementara ada yang berpendapat Pemilu sebagai cara konstitusional yang legal dan sah untuk mengganti calon presiden, DPR atau DPD.

Menurut saya, dalam konteks Pemilu 2019 saat ini, antusiasme warga begitu tinggi dan besar. Di satu sisi ada yang ingin mempertahankan presiden tetap atau dua kali dan caleg tetap. Pada sisi lain, ada warga yang menghendaki ganti Presiden 2019, juga ganti Caleg 2019 (DPD, DPR, DPRD).

Dari calon Presiden, calon petahana 01 didukung PDIP, Golkar, PK, Nasdem, PPP dan Hanura. Sedangkan oposisi No. 02 didukung Gerindra,Demokrat, PAN, dan PKS. Apakah dukungan kepada Cpres 01 dan Capres 02, berkolerasi dengan pemilihan Caleg, bisa ya, bisa tidak.

Sebagai Calon Anggota DPD RI, saya mengajak kita semua, untuk menggunakan hak pilih secara cerdas dan benar agar terpilih Capres dan Caleg atau Senator yang terbaik.(*)

Baca Juga  Maju ke Pilkada Kepri, Huzrin Hood Ambil Formulir di Nasdem

DomaiNesia

Berita Terkait